Syekh Maulana Jumadil Kubro ||



       Sayyid Jumadil Kubro bin Sayyid Zainul Khusen bin Sayyid Zainul Kubro bin Sayyid Zainul Alam bin Sayyid Zainal Zainal Abidin bin Sayyid Khusen bin Siti Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Mutholib Atau yang biasa disebut dengan Syekh Maulana Jumadil Kubro. Beliau berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah. 
       Beliau memiliki tiga putra yakni yang pertama Sayyid Ibrahim (Ibrahim As-Samarkhandi). Yang kedua, Maulana Iskha’ dan yang ketiga, Sunan Aspadi. Dari kedua putranya melahirkan sebagian dari Wali Songo yaitu Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan Maulana Ishaq melahirkan Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Gunung Jati dan Sunan Giri (Raden Paku) adalah cucunya. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah buyutnya. Sementara Sunan Kudus adalah cicitnya.

       Dari beberapa sumber terdapat beberapa cerita maupun penuturan yang pertama Syekh Jumadil Kubro memang pernah melakukan riyadhoh di Gunung Merapi untuk mencari petunjuk. Setelah itu,beliau berdakwah ke berbagai daerah di Pulau Jawa. 
      Salah satu dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Wijaya Mojokerto, menuturkan bahwa, nama Syekh Jumadil Kubra juga dikenal di kalangan pengikut Syekh Siti Jenar. "Menurut cerita tutur, Syekh Jumadil Kubra adalah teman baik Syekh Siti Jenar saat membawa penawar atas tanah-tanah angker bekas pemujaan aliran Yoga-tantra," tulis Isno dalam "Pendidikan Islam Masa Majapahit dan Dakwah Syekh Jumadil Kubra", terbit di Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 03, No. 01, Mei 2015.
      
    Kisah Syekh Jumadil Kubra menjadi legenda di empat wilayah, yaitu Banten-Cirebon, Gresik-Majapahit, Semarang-Mantingan, dan Yogyakarta. Tak heran apabila terdapat beberapa petilasan dari beliau Syekh Jumadil Kubro diyakini berada di sejumlah tempat di antaranya di Mojokerto, Sleman, Jogyakarta, dan Makassar. 
        Pada petilasan beliau didaerah Majapahit berada di Kompleks makam Islam kuno itu terletak di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Tepatnya sekitar 500 meter ke arah selatan dari Pendopo Agung Trowulan, serta sekitar 1 Km dari Museum Majapahit dan Kolam Segaran. Pemakaman beliau berada di antara beberapa pejabat kerajaan Majapahit di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunana Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih serta senopati yang dimakamkan bersamanya.
        Makam Syekh Jumadil Kubra pun ada di beberapa tempat. Selain di Troloyo, sebuah makam tua di antara tambak daerah pesisir pantai di Terbaya, tidak jauh dari Semarang, diyakini penduduk sekitar sebagai makam Syekh Jumadil Kubra. Keyakinan ini berdasarkan kisah dalam Babad Tanah Jawi yang menuturkan Syekh Jumadil Kubra pernah melakukan tapa di Bukit Bergota di Semarang.
       Menurut catatan di Goa Batu, Semarang, tujuh dari sembilan para Walisongo adalah keluarga dan rekan Panglima Cheng Ho yang juga berasal Xin Kiang (Xinjiang), sekarang berada di wilayah TiongkokMakamnya berlokasi di Jalan Arteri Yos Sudarso nomor 1 Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk Kota Semarang. Tepatnya di dekat pintu keluar Jalan Tol Semarang Timur.
     Makam keramat lain berada di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Turgo. Keberadaannya disertai cerita lisan yang beredar di kawasan itu. Sementara itu, kisah Syekh Jumadil Kubra di Gresik dan Mantingan tidak meninggalkan jejak makam maupun petilasan.




Komentar